Sang Motivator Muda

 

Tahukah sebenarnya seorang motivator disekolah bukanlah guru atau tenaga pendidik tapi dia adalah peserta didik itu sendiri mengapa ?

Apa yang memotivasi kita untuk melakukan perbaikan tehnik mengajar ? Siapa yang memotivasi kita untuk melakukan perubahan perilaku ? Mengapa kita ingin mencoba semua hal untuk bisa menemukan metode tepat dalam pembelajaran kita ? Masih banyak kalimat tanya dalam benak kita yang semua jawabannya bermuara pada seseorang yang menjadi motivasi kita para guru dan pendidik.

Jika bapak / ibu guru ditanya bagaimana rasanya mendampingi peserta didik disaat mereka menorehkan prestasi jawabannya mungkin ke arah yang sama bahagia, bangga, dan terharu. Pernahkah ada yang tanya bagaimana prosesnya, nah untuk jawaban ini pasti ada banyak rasa yang diuraikan.

Pertama kali mendampingi Peserta didik berprestasi tahun 2009 silam, meski sudah lama tapi mengenangnya rasa baru beberapa hari yang lalu. Billi, dia ku panggil seabrek prestasi membersamainya selama tiga tahun dengan puncak prestasinya berkalung perunggu bergrafiti OSN. Ah baru perunggu masak sih sudah bilang puncak mungkin itu sebagian cibiran orang, tapi bagi kami ini bukan sekedar prestasi ajang tenar dan banggaan. Ini adalah bukti dari kami yang biasa menjadi luar biasa.

Billi menganggap temannya adalah lawan bukan musuh, karena dari situ dia banyak belajar bagaimana bisa menjadi lawan yang tangguh. Billi percaya jika kita melakukan hal yang terbaik maka Tuhan pun akan menghadirkan yang terbaik. Belajar bagi kami berdua bukan hanya sekedar menyelesaikan soal- soal, menghitung angka - angka, ataupun analisa masalah. Belajar bagi kami adalah sebuah proses pendewasaan diri "Critical, Analysis, Thinking".

Mendampingi Billi saat itu membuat saya merasa memiliki sahabat meski usia kami terpaut jauh. Sepekan tiga kali kadang lebih kami menggeluti silabus OSN, melatih diri dengan soal - soal, dan membuat resume materi yang telah dikuasai. Disaat kami menemui jalan buntu, kepenatan, dan rasa bosan melanda kami punya cara unik mengatasinya, waktu itu di usia yang masih muda darinya lah saya mengenal kata "oppa". Billi anak yang sederhana dia bersekolah disini dengan mendapat beasiswa penuh 3 tahun tetap rendah hati, ramah dan tekun belajar. Darinyalah saya belajar meresensi drama - drama yang diputar di televisi negara tetangga kita. Meresensi dengan cara yang elegan bukan dengan gaya emak - emak yang kesal dengan pemeran antagonis di sinetron semalam hahahaha.

Tahun berganti    

Billi melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi, kami kehilangan kontak bahkan data alumni tak kutemukan seiring kepindahannya ke kota lain atau mungkin sudah dinegara lain. Melalui blog ini ada secercah harap kami bisa dipertemukan kembali.

Seseorang yang merindukan teman kecilnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Writer's Block

Untukmu

5 Tipe Menulis